Mahasiswa KKN IPB University Bangun Insinerator Minim Asap di Desa Sumberagung Blora, Solusi Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan ‎

BLORA,SUARABLORA.COM – Persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang masih mengandalkan pembakaran terbuka menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IPB University di Desa Sumberagung, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Melalui program pengabdian masyarakat, mereka membangun sebuah insinerator minim asap sebagai solusi sederhana yang diharapkan mampu mengurangi dampak pencemaran udara akibat pembakaran sampah secara konvensional.

Insinerator tersebut dibangun secara gotong royong bersama masyarakat Dukuh Gempol pada Minggu (2/8/2026). Fasilitas ini menjadi salah satu program unggulan tujuh mahasiswa KKN Tematik IPB University yang melaksanakan pengabdian di Desa Sumberagung sejak 7 Juli hingga 14 Agustus 2026.

‎Selama ini, sebagian besar warga masih membakar sampah rumah tangga secara terbuka karena belum tersedianya fasilitas pengelolaan sampah yang memadai. Kebiasaan tersebut kerap menimbulkan kepulan asap pekat yang mengganggu kenyamanan warga sekitar sekaligus berdampak pada kualitas udara lingkungan.

‎Berangkat dari kondisi tersebut, tim KKN menghadirkan insinerator dengan desain ruang bakar yang dirancang menghasilkan proses pembakaran lebih optimal. Dengan sirkulasi udara yang lebih baik, proses pembakaran berlangsung lebih sempurna sehingga mampu menekan produksi asap dibandingkan pembakaran secara terbuka.

‎Koordinator Kelompok KKN Tematik IPB University Desa Sumberagung, Sasi Puspita Ningrum, mengatakan pembangunan insinerator bukan dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan masyarakat secara instan, melainkan memberikan alternatif yang lebih aman dan lebih ramah lingkungan dalam mengelola sampah rumah tangga.

“Kami melihat masyarakat sebenarnya sudah memiliki kesadaran untuk mengelola sampah, namun pilihan yang tersedia masih sangat terbatas sehingga pembakaran terbuka menjadi cara yang paling sering dilakukan. Karena itu kami menghadirkan insinerator minim asap sebagai solusi yang sederhana, mudah digunakan, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh warga,” ujar Sasi Kepada Media,Senin 5/8/2026.

‎Menurutnya, pembangunan fasilitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

‎”Kami berharap keberadaan insinerator ini tidak hanya mengurangi asap dari pembakaran sampah, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat mulai membiasakan memilah sampah, mengurangi pembakaran sampah yang masih dapat dimanfaatkan kembali, serta bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.

‎Pembangunan insinerator dilakukan melalui kerja sama antara mahasiswa dan masyarakat. Warga terlibat sejak tahap persiapan lokasi, penyusunan material, hingga proses penyelesaian bangunan.

Keterlibatan masyarakat tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki sehingga fasilitas dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan setelah masa KKN berakhir.

Selain membangun fasilitas fisik, mahasiswa juga menggelar sosialisasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami pentingnya memilah sampah sesuai jenisnya, mengurangi pembakaran sampah yang masih memiliki nilai guna, serta memanfaatkan insinerator sebagai tempat pembakaran bersama agar tidak lagi dilakukan secara sembarangan di pekarangan rumah.

‎Keberadaan insinerator minim asap diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari berkurangnya kepulan asap yang selama ini muncul akibat pembakaran terbuka, terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih dan nyaman, hingga meningkatnya kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga kualitas lingkungan.

Program tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa inovasi sederhana berbasis kebutuhan masyarakat dapat menjadi solusi efektif dalam menjawab persoalan lingkungan di tingkat desa apabila didukung kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.

Adapun tim KKN Tematik IPB University yang menginisiasi program tersebut terdiri atas Sasi Puspita Ningrum, Davina Zahira, Ilyas Atsilah Firyal, Arfah Hayati, Yesssy Lastari, Muhammad Fauzan, dan Dhimas Bayu Nugroho.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa berharap insinerator minim asap dapat terus dimanfaatkan sebagai fasilitas bersama bahkan setelah program KKN selesai.

Dengan dukungan Pemerintah Desa Sumberagung dan partisipasi aktif masyarakat, fasilitas itu diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, lebih sehat, dan berkelanjutan di wilayah pedesaan.