Blora ditetapkan sebagai salah satu titik awal pelaksanaan di Jawa Tengah, sekaligus menjadi percontohan pendekatan jemput bola dalam deteksi dini penyakit menular yang masih menjadi ancaman serius di Indonesia.
Anggota DPR RI, Edy Wuryantoro, menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret berbasis data untuk memutus mata rantai penularan di tingkat komunitas.
“Kita tidak bisa lagi bekerja biasa-biasa saja. Perlu langkah percepatan. Data menunjukkan ada sekitar 2.000 penderita TBC di Blora yang harus kita tangani serius. Jika ditelusuri hingga keluarga dan kontak eratnya, jumlahnya bisa mencapai 10.000 orang yang wajib diskrining,” ujar Edy Wuryantoro, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, pendekatan yang digunakan kali ini dirancang lebih progresif dengan menyasar langsung lingkungan masyarakat. Pemeriksaan tidak lagi terpusat di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, tetapi dipindahkan ke desa-desa guna menghapus hambatan psikologis yang selama ini menjadi kendala utama.
“Selama ini stigma dan rasa malu menjadi penghalang. Karena itu, layanan kita bawa langsung ke balai desa dan kantor kecamatan. Ini penting agar masyarakat tidak ragu memeriksakan diri,” tegasnya.
Untuk mendukung program tersebut, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan fasilitas mobile berupa unit rontgen berjalan yang dapat menjangkau wilayah terpencil. Dengan kapasitas sekitar 100 orang per titik, total akan disiapkan sekitar 100 lokasi pemeriksaan yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Blora.
Skema pemeriksaan dilakukan secara berlapis. Tahap awal menggunakan rontgen untuk mendeteksi indikasi awal TBC, kemudian dilanjutkan dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) guna memastikan diagnosis secara akurat dan cepat.
“Rontgen itu hanya skrining awal. Untuk memastikan, kita gunakan TCM yang hasilnya bisa cepat diketahui. Kalau positif, langsung masuk pengobatan hingga tuntas, antara 6 sampai 12 bulan,” jelas Edy.
Ia optimistis, dengan pendekatan masif dan terintegrasi ini, angka kasus TBC di Blora dapat ditekan secara signifikan dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
<span;>Lebih jauh, pemerintah juga terus mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar tidak lagi menganggap TBC sebagai penyakit yang memalukan.
“TBC itu penyakit yang bisa disembuhkan. Yang berbahaya justru kalau tidak diperiksa dan tidak diobati. Kami minta masyarakat memanfaatkan program ini sebaik-baiknya,” imbuhnya.
Selain skrining TBC, pemerintah daerah juga rutin menggelar program pemeriksaan kesehatan gratis setiap tanggal 10 di berbagai wilayah, baik di Blora bagian utara maupun selatan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pola hidup sehat.
Dengan mobilisasi besar-besaran ini, Blora kini berada di garis depan dalam upaya nasional eliminasi TBC—sebuah tantangan yang selama ini belum sepenuhnya teratasi, namun mulai dijawab dengan pendekatan yang lebih sistematis dan menyentuh langsung masyarakat.











