BLORA,SUARABLORA.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University menggelar sosialisasi dan pelatihan budidaya tanaman hidroponik bagi ibu-ibu PKK Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora.Rabu 22/7/2026.
Kegiatan tersebut digelar di Balai Desa Tutup sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan inovasi pertanian sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah.
Pelatihan hidroponik dipilih karena metode tersebut memungkinkan masyarakat bercocok tanam meski memiliki keterbatasan lahan. Melalui sistem hidroponik sederhana, pekarangan rumah maupun ruang terbatas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai jenis sayuran.
Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu PKK Desa Tutup. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tunjungan, Ibu Ati, serta Fuji dari BPP Kecamatan Tunjungan.
Keduanya hadir untuk mendukung pelaksanaan kegiatan dan pemberdayaan masyarakat melalui pengenalan inovasi pertanian.
Sementara itu, materi dan pelaksanaan pelatihan disampaikan oleh mahasiswa KKN-T IPB University.
Koordinator Kelompok KKN-T IPB University, Abdan Ihyaul Haq, mengatakan pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya mengetahui konsep hidroponik, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara mandiri.
“Kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk bercocok tanam. Dengan hidroponik sederhana, pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sayuran yang bisa mendukung kebutuhan pangan keluarga,” ujar Abdan.
Menurut Abdan, hidroponik memiliki sejumlah keunggulan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Sistem tersebut juga dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan rumah dan menggunakan bahan-bahan yang relatif mudah diperoleh.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T IPB University terlebih dahulu memberikan pemaparan mengenai konsep dasar hidroponik.
Peserta diperkenalkan dengan prinsip budidaya tanaman tanpa menggunakan tanah, berbagai media tanam, jenis peralatan yang dibutuhkan, hingga cara melakukan perawatan tanaman.
Setelah mendapatkan materi, peserta kemudian diajak mengikuti praktik secara langsung.
Mahasiswa memperagakan pembuatan instalasi hidroponik sederhana menggunakan sistem wick atau sistem sumbu. Sistem tersebut dipilih karena relatif mudah dipahami dan dapat dibuat menggunakan bahan sederhana.
Salah satu instalasi yang diperkenalkan memanfaatkan botol plastik bekas sebagai wadah tanaman. Botol tersebut kemudian dipadukan dengan kain flanel yang berfungsi sebagai sumbu untuk membantu menyalurkan air dan nutrisi menuju media tanam.
Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan rockwool sebagai media tanam serta tahapan penyemaian benih sebelum tanaman dipindahkan ke instalasi hidroponik.
Menurut Abdan, praktik secara langsung menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut karena peserta dapat melihat sekaligus mencoba setiap tahapan budidaya.
“Kami sengaja membuat praktiknya sesederhana mungkin agar setelah kegiatan ini selesai, ibu-ibu bisa mencoba kembali di rumah. Jadi, yang dibawa pulang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman dan keterampilan untuk membuat hidroponik secara mandiri,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa juga memberikan pemahaman mengenai perawatan tanaman. Peserta diarahkan untuk memperhatikan kondisi air, media tanam, pertumbuhan tanaman serta kebutuhan nutrisi agar tanaman dapat berkembang dengan baik.
Setiap peserta juga mendapatkan paket hidroponik sederhana untuk dibawa pulang. Paket tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai sarana praktik lanjutan di rumah.
Abdan menjelaskan, pemberian paket tersebut merupakan bagian dari upaya agar pelatihan tidak berhenti ketika kegiatan di Balai Desa Tutup selesai.
“Kami berharap paket yang diberikan bisa benar-benar dimanfaatkan dan dipraktikkan di rumah. Dengan begitu, materi yang sudah diberikan selama pelatihan dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan pekarangan melalui hidroponik juga memiliki potensi untuk mendukung ketahanan pangan keluarga. Sayuran yang ditanam sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sehingga masyarakat memiliki alternatif sumber pangan dari lingkungan rumah.

Selain untuk kebutuhan konsumsi, apabila dikembangkan secara konsisten, budidaya hidroponik juga berpotensi menjadi kegiatan produktif. Hasil panen dapat dimanfaatkan sendiri maupun dikembangkan menjadi peluang ekonomi rumah tangga.
Kegiatan tersebut mendapat perhatian dari peserta. Ibu-ibu PKK yang mengikuti pelatihan terlihat aktif selama sesi penyampaian materi maupun praktik pembuatan instalasi hidroponik.
Sejumlah peserta mengikuti proses perakitan media tanam dan pembuatan sistem wick secara langsung. Interaksi antara mahasiswa dan peserta juga berlangsung melalui diskusi serta tanya jawab mengenai teknik budidaya hidroponik.
Abdan menyebutkan antusiasme peserta menjadi salah satu hal yang mendorong mahasiswa untuk memberikan materi secara praktis dan mudah diterapkan.
“Antusiasme ibu-ibu sangat baik. Mereka tidak hanya mengikuti materi, tetapi juga aktif bertanya dan mencoba langsung. Ini menjadi hal positif karena tujuan utama kami memang agar masyarakat bisa memiliki keterampilan yang dapat diterapkan setelah program KKN selesai,” jelasnya.
kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk berbagi pengetahuan sekaligus membangun kolaborasi dengan masyarakat desa.
Program KKN-T tidak hanya diarahkan untuk melaksanakan kegiatan dalam jangka pendek, tetapi juga diharapkan dapat meninggalkan pengetahuan dan keterampilan yang bisa terus dimanfaatkan masyarakat.
Dalam konteks Desa Tutup, pengembangan hidroponik dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan pekarangan yang sederhana. Masyarakat tidak harus memiliki lahan pertanian luas untuk mulai bercocok tanam.
Abdan berharap masyarakat dapat melanjutkan praktik yang telah diberikan secara bertahap. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut akan terlihat ketika peserta mampu mengembangkan instalasi hidroponik secara mandiri dan memperoleh hasil dari tanaman yang dibudidayakan.
“Harapan kami sederhana, setelah mahasiswa selesai melaksanakan KKN, kegiatan ini tetap berjalan. Ibu-ibu bisa terus mencoba, mengembangkan instalasi yang ada, dan kalau memungkinkan bisa menghasilkan sayuran untuk kebutuhan keluarga maupun dikembangkan menjadi kegiatan yang lebih produktif,” tutur Abdan.











