‎Tanah Bergerak di Buluroto Blora Kian Meluas, Rekahan Baru Muncul Dekati Permukiman Warga

‎BLora,SUARABLORA.COM–Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Pergerakan tanah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir kini semakin meluas, ditandai dengan munculnya rekahan baru yang jaraknya hanya sekitar satu meter dari rekahan lama dan semakin mendekati permukiman warga.

‎Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pergerakan tanah masih aktif dan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas jika tidak segera dilakukan penanganan. Sejumlah titik di wilayah terdampak dilaporkan mengalami penurunan permukaan tanah dengan kedalaman bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter.

‎Kapolsek Banjarejo, AKP Gembong, mengatakan bahwa pergerakan tanah tidak hanya memanjang mengikuti rekahan awal, tetapi juga menyebar ke sisi lain, termasuk ke arah rumah-rumah warga yang sebelumnya belum terdampak.

‎“Pergerakan tanah sudah meluas ke beberapa sisi. Tidak hanya memanjang, tetapi juga menyebar, termasuk ke arah permukiman warga. Bahkan, penurunan tanah kini terjadi di lokasi yang sebelumnya aman,” ujar AKP Gembong, Jumat (2/1/2026).

‎Ia menambahkan, perkembangan terbaru menunjukkan adanya titik-titik amblesan baru yang semakin mendekati bangunan warga, sehingga perlu diwaspadai bersama.

‎Berdasarkan pendataan awal di lapangan, sedikitnya tiga rumah warga serta kandang ternak dilaporkan terdampak langsung akibat fenomena tersebut. Dua rumah mengalami kerusakan paling parah. Pada salah satu bangunan, tembok rumah mengalami penurunan hingga sekitar 50 sentimeter, sehingga dinilai membahayakan keselamatan penghuni.

‎“Ada rumah warga yang temboknya sudah turun cukup dalam. Ini tentu berisiko, terutama jika pergerakan tanah terus berlanjut,” kata AKP Gembong.

‎Panjang area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Warga setempat menyebut penurunan tanah terjadi hampir setiap hari, dengan kisaran 2 hingga 3 sentimeter. Saat hujan deras, penurunan tanah bahkan bisa mencapai sekitar 5 sentimeter.

‎Salah satu warga terdampak, Peniwati, mengungkapkan bahwa selama kurang lebih satu bulan terakhir dirinya terpaksa melakukan pengurukan di bagian belakang dapur rumahnya untuk mencegah tanah semakin amblas.

‎“Sudah sekitar satu bulan ini tanah terus turun. Bagian belakang dapur saya uruk pakai satu mobil colt dan satu truk material. Panjangnya sekitar tujuh meter, lebarnya lima meter,” ujar Peniwati.

‎Keluhan serupa disampaikan Nur Hidayah, warga lainnya, yang menyebut tanah di sekitar rumahnya mengalami amblesan cukup lebar.

‎“Tanah di samping rumah saya amblas, panjangnya sekitar enam meter dan lebarnya empat meter. Setiap hari rasanya makin turun,” kata Nur Hidayah.

‎Sementara itu, Sahid, warga Desa Buluroto lainnya, mengatakan bahwa lahan miliknya juga terdampak cukup luas.

‎“Lahan saya yang terdampak panjangnya sekitar 12 meter dan lebarnya kurang lebih sembilan meter. Kami sangat khawatir kalau ini terus dibiarkan,” ujar Sahid.

‎Menurut penuturan warga, peristiwa tanah ambles di wilayah tersebut bukan kali pertama terjadi. Fenomena serupa pernah terjadi pada tahun 1998, dengan kedalaman amblesan mencapai sekitar dua meter dan menyebabkan lantai rumah warga mengalami retak-retak.

‎“Dulu pernah kejadian tahun 1998. Waktu itu tanah ambles ke bawah, bukan ke sungai. Sekarang kami khawatir dampaknya lebih besar,” tambah Sahid.

‎Menanggapi keluhan masyarakat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah melakukan koordinasi awal. Pergerakan tanah di Desa Buluroto ini diduga dipicu oleh gerusan aliran Sungai Lusi yang berada tidak jauh dari lokasi terdampak.

‎Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kabupaten Blora, Surat, menyampaikan bahwa pihaknya akan segera melakukan pengecekan langsung ke lapangan bersama BBWS Pemali Juana.

‎“Inspeksi lapangan bersama BBWS Pemali Juana kami rencanakan dilakukan pada pekan depan untuk memastikan penyebab pergerakan tanah sekaligus merumuskan langkah mitigasi dan penanganan yang tepat,” ujar Surat.

‎Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil langkah konkret guna mencegah dampak yang lebih luas serta menjamin keselamatan warga yang tinggal di sekitar lokasi terdampak