BLORA , SUARABLORA.COM– Sebanyak 89 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung JAWA BARAT melakukan pembelajaran lapangan di Kampung Sedulur Sikep, Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Senin (6/7/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda akademik tahunan untuk mempelajari secara langsung kehidupan masyarakat adat yang masih konsisten mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
Didampingi dosen pembimbing, para mahasiswa tidak hanya mengamati kehidupan sosial masyarakat Sedulur Sikep, tetapi juga mempelajari ajaran, adat istiadat, sistem nilai, hingga filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa Samin Surosentiko.
Momentum kunjungan semakin istimewa karena bertepatan dengan pelaksanaan Ruwatan Agung dan pagelaran wayang kulit yang digelar masyarakat setempat.
Mahasiswa pun mendapat kesempatan menyaksikan secara langsung praktik budaya yang masih hidup dan dijalankan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Ketua Paguyuban Sedulur Sikep Samin Karangpace, Sairyono, menyampaikan apresiasi atas kedatangan rombongan UPI Bandung yang memilih Kampung Sedulur Sikep sebagai lokasi pembelajaran lapangan.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat Sedulur Sikep kepada kalangan akademisi sekaligus generasi muda.
“Teman-teman mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung bersama para dosen datang ke sini untuk mengetahui ritual adat Sedulur Sikep, kehidupan keseharian masyarakat, serta hubungan sosial yang selama ini dijalankan warga Sedulur Sikep,” ujar Sariyono.
Ia menjelaskan, pada hari yang sama Kampung Sedulur Sikep juga menerima kunjungan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi lain, di antaranya IAIN Pekalongan dan Universitas Diponegoro (Undip).
Hal itu menunjukkan semakin besarnya perhatian kalangan akademik terhadap masyarakat adat yang masih mempertahankan identitas budayanya.
Sariyono mengungkapkan, agenda kunjungan telah dipersiapkan sekitar dua bulan sebelumnya dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata dan mitra wisata edukasi yang membantu proses pelaksanaan kegiatan.
Namun di balik meningkatnya kunjungan akademik tersebut, ia mengingatkan agar perhatian terhadap budaya Sedulur Sikep tidak berhenti sebatas promosi atau jargon pelestarian budaya.
“Kami berharap budaya Sedulur Sikep tidak hanya digembar-gemborkan sebagai slogan. Yang kami butuhkan adalah ruang berekspresi yang lebih luas agar adat dan budaya kami benar-benar dikenal secara nasional,” tegasnya.
Selain pelestarian budaya, Sariyono juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap keberadaan tanah ulayat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan keberlangsungan ajaran Sedulur Sikep.
“Kami berharap ada perhatian untuk mempertahankan tanah ulayat yang menjadi wadah ajaran masyarakat Samin. Kami ingin menjaga ajaran para leluhur sebagaimana diwariskan Mbah Engkrek dan Mbah Lasio,” katanya.
Sementara itu, dosen pendamping dari Program Studi Pendidikan Sosiologi UPI Bandung, Muhammad Retza Rezaladi Wijayapura, mengatakan kegiatan pembelajaran lapangan merupakan agenda rutin yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung praktik kehidupan masyarakat di lapangan.
“Kami membawa 89 mahasiswa. Ini merupakan agenda tahunan agar mahasiswa dapat belajar langsung dari masyarakat yang masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal,” ujarnya.
Retza mengungkapkan, sebagian besar mahasiswa baru pertama kali mengunjungi Kampung Sedulur Sikep. Meski demikian, kawasan tersebut telah lama menjadi salah satu lokasi studi yang direkomendasikan oleh mahasiswa angkatan sebelumnya karena dinilai memiliki kekayaan sosial dan budaya yang masih terjaga.
Menurutnya, keberadaan Ruwatan Agung dan pagelaran wayang selama kunjungan memberikan pengalaman yang jauh lebih lengkap karena mahasiswa dapat menyaksikan praktik budaya yang tidak sekadar diceritakan dalam literatur akademik.
Ia menilai masyarakat Sedulur Sikep menyimpan banyak nilai yang relevan dengan kehidupan modern, terutama dalam menjaga konsistensi terhadap nilai moral, etika, dan kebersamaan.
“Yang paling menarik adalah bagaimana nilai perilaku, tata krama, dan ajaran leluhur tetap dipertahankan hingga generasi kelima. Nilai seperti ini sangat mahal karena tidak semua masyarakat mampu menjaganya di tengah perubahan zaman,” jelasnya.
Retza juga menyoroti filosofi hidup masyarakat Sedulur Sikep yang memandang hubungan manusia dengan alam sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Menurutnya, pandangan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa yang sebagian besar tumbuh di lingkungan perkotaan dan sangat dekat dengan perkembangan teknologi.
“Filosofi ‘Ibu Bumi, Bapak Langit’ mengajarkan bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan. Nilai seperti ini sangat relevan di tengah tantangan kehidupan modern saat ini,” katanya.
Ia menambahkan, identitas budaya masyarakat Sedulur Sikep masih terlihat kuat, mulai dari pola hidup hingga busana serba hitam yang menjadi ciri khas mereka. Baginya, kekuatan identitas tersebut menunjukkan bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus jati diri sebuah komunitas.
Retza juga mengajak generasi muda untuk tetap menghargai akar budaya bangsa di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Setinggi apa pun pendidikan kita dan sejauh apa pun pemikiran berkembang, jangan pernah melupakan asal-usul. Nilai-nilai yang dijaga masyarakat Sedulur Sikep merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang harus terus dirawat bersama,” pungkasnya.











