Aliansi Indonesia Tinjau Panen Perdana Tebu BUMDes Dahlia Tamanrejo, Digadang Jadi Motor Ekonomi Desa

BLORA ,SUARABLORA.COM– Program ketahanan pangan yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dahlia Desa Tamanrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, mulai menunjukkan hasil nyata.

Lahan seluas 3,4 hektare atau sekitar empat bahu yang dikelola BUMDes kini memasuki masa panen tebu perdana dan hasilnya telah dikirim ke pabrik gula di wilayah Kabupaten Pati, Jumat (12/6/2026).

Panen perdana tersebut mendapat perhatian dari Lembaga Aliansi Indonesia DPC Blora yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

Kunjungan itu dilakukan untuk melihat sejauh mana pemanfaatan aset desa melalui program ketahanan pangan yang selama ini menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Lahan yang digunakan merupakan tanah kas Desa Tamanrejo yang dikelola melalui kerja sama antara Pemerintah Desa dan BUMDes Dahlia.

Program budidaya tebu tersebut lahir dari hasil Musyawarah Desa (Musdes) yang melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai unsur warga yang sepakat menjadikan sektor pertanian tebu sebagai usaha strategis desa.

Ketua BUMDes Dahlia, Sutig, menjelaskan bahwa pengembangan tanaman tebu dipilih karena dinilai paling sesuai dengan kondisi lahan yang tersedia serta memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.

“Total modal usaha yang digunakan mencapai Rp227 juta yang bersumber dari alokasi 20 persen Dana Desa Tahun Anggaran 2025. Dana tersebut digunakan untuk biaya sewa lahan, modal produksi, dan modal kerja sehingga seluruh kegiatan budidaya dapat berjalan sesuai perencanaan,” ujar Sutig.

Ia merinci, anggaran sewa lahan mencapai Rp120 juta. Rinciannya, empat bahu lahan disewa dengan nilai Rp10 juta per bahu selama dua tahun atau senilai Rp80 juta. Sementara satu bahu lahan lainnya disewa Rp10 juta per tahun selama empat tahun dengan total Rp40 juta.

Selain itu, BUMDes mengalokasikan Rp44,265 juta untuk biaya produksi dan Rp62,735 juta sebagai modal kerja. Menurutnya, tidak ada pengadaan bibit tebu dalam program tersebut karena tanaman yang dikelola merupakan kelanjutan dari tanaman tebu yang sudah ada sebelumnya.

“Fokus kami adalah memaksimalkan pengelolaan lahan yang tersedia agar menghasilkan keuntungan yang bisa kembali dirasakan masyarakat dan desa,” tegasnya.

Kepala Desa Tamanrejo, Suratman, menilai keberadaan BUMDes tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan usaha, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Melalui kemitraan dengan petani lokal dan industri gula, program tersebut diharapkan mampu menciptakan efek ekonomi yang lebih luas.

“Kami berharap BUMDes Dahlia mampu memanfaatkan potensi desa secara maksimal, membuka lapangan pekerjaan baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan membantu menekan angka pengangguran di wilayah Desa Tamanrejo,” kata Suratman.

Menurutnya, keberhasilan panen perdana ini menjadi indikator positif bahwa pengelolaan dana desa melalui BUMDes dapat diarahkan pada sektor produktif yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Aliansi Indonesia DPC Blora yang hadir dalam peninjauan menyampaikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Desa Tamanrejo dan BUMDes Dahlia yang berani mengoptimalkan aset desa untuk kegiatan ekonomi produktif.

Dengan luas lahan yang cukup besar dan potensi pasar yang masih terbuka, BUMDes Dahlia diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD), memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi contoh pengelolaan BUMDes yang transparan, akuntabel, dan berbasis gotong royong.

Panen perdana tebu ini menjadi momentum penting bagi Desa Tamanrejo dalam membuktikan bahwa program ketahanan pangan tidak hanya berorientasi pada produksi pertanian, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan apabila dikelola secara profesional dan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.