BLORA ,SUARABLORA.COM– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Seso, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora menuai perhatian warga. Sejumlah kritik bermunculan di media sosial setelah menu yang dibagikan dinilai kurang layak dan tidak sesuai harapan penerima manfaat.
Kritik tersebut beredar melalui tangkapan layar story WhatsApp warga yang kemudian diterima redaksi pada Selasa (3/3/2026). Dalam unggahan itu, warga mengungkapkan kekecewaannya terhadap menu yang dianggap tidak pantas.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Jepon 1 Seso Blora, Sutarno, membenarkan adanya keluhan dari masyarakat. Ia menyebut persoalan tersebut dipicu oleh kesalahan komunikasi antara pihaknya dengan pemasok bahan makanan.
“Keluhan itu kami terima. Untuk anggaran sebenarnya tidak ada masalah, tapi memang ada miskomunikasi dalam pemesanan dengan supplier,” ujar Sutarno saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, salah satu persoalan terjadi pada pengiriman ayam. Pihaknya memesan potongan paha ayam, namun yang datang justru ayam utuh sehingga harus dilakukan pemotongan ulang.
“Sebelumnya kami pesan bagian paha, tetapi yang datang ayam utuh dan itu tidak sesuai pesanan awal,” jelasnya.
Tak hanya itu, kualitas buah yang diterima juga menjadi sorotan. Sutarno mengakui bahwa pihaknya telah meminta buah dengan kualitas baik, namun yang dikirim kerap berada di kualitas nomor dua atau tiga.
“Kami menuntut kualitas buah yang bagus, tapi yang datang sering kali kualitas di bawahnya. Ini sudah kami sampaikan ke mitra,” tegasnya.
Terkait tudingan bahwa ukuran paha ayam terlalu kecil dan tidak sebanding dengan nilai anggaran sekitar Rp10.000 per porsi, Sutarno memastikan bahwa pembelian dilakukan berdasarkan sistem kilogram dan telah melalui proses penimbangan sesuai standar gizi.
“Pembagian porsi itu ada timbangannya sendiri dan sudah melalui pertimbangan ahli gizi. Jadi besar kecilnya bukan asal potong,” katanya.
Ia menambahkan, jika terdapat selisih harga, nilainya relatif kecil, berkisar antara Rp300 hingga Rp500 per porsi.
Sutarno menegaskan pihaknya rutin melakukan evaluasi bersama mitra setiap kali menerima masukan atau keluhan dari masyarakat. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas pelayanan yang dinilai belum maksimal.
“Kami mohon maaf jika pelayanan kami dianggap kurang maksimal. Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami dan mitra,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab tidak hanya berada pada supplier semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama di internal SPPG.
“Bukan hanya kesalahan mitra, tapi kesalahan kami semua di SPPG,” imbuhnya.
Saat ditanya kemungkinan adanya penyimpangan dari pihak pemasok karena perbedaan bentuk pesanan, Sutarso mengaku belum dapat memastikan. Ia menyebut perbedaan tersebut bisa dipengaruhi kapasitas dan standar operasional masing-masing supplier.
“Kalau supplier kecil, pemotongan kadang tidak berdasarkan SOP sehingga ayam dikirim utuh. Kalau supplier besar biasanya sudah dipotong sesuai standar,” terangnya.
Sebagai informasi, SPPG Jepon 1 Seso setiap hari mengelola dan mendistribusikan sekitar 2.700 porsi MBG kepada penerima manfaat di wilayahnya. Pihaknya memastikan seluruh porsi tetap melalui proses penimbangan dan perhitungan kandungan gizi sebelum dibagikan.(TH)











