BLORA,SUARABLORA.COM – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Blora mulai menyiapkan strategi menghadapi Pemilu 2029. Setelah hanya meraih tiga kursi DPRD Blora pada Pemilu 2024, partai berlambang Ka’bah tersebut memasang target mengembalikan perolehan menjadi lima kursi.
Target itu tidak hanya ditempuh melalui konsolidasi internal. DPC PPP Blora juga akan memperluas komunikasi politik dengan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), warga NU, tokoh nasionalis serta berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Blora.
Ketua DPC PPP Blora, Achlif Nugroho Widi Utomo, mengatakan pendekatan kepada tokoh dan warga NU menjadi salah satu strategi yang akan diperkuat menjelang Pemilu 2029.
Menurutnya, komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat perlu dibangun sejak dini.
“Tentunya pendekatan ke warga NU akan kita lakukan,” kata Achlif saat ditemui di sela-sela Musyawarah Anak Cabang (Musancab) Serentak PPP Blora di Graha Nusantara, Blora, Rabu (26/8/2026).
Langkah pendekatan tersebut ditunjukkan PPP Blora sebelum Musancab berlangsung.
Achlif bersama sejumlah pengurus harian DPC PPP Blora menyempatkan diri bersilaturahmi dengan pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum, KH Muharor Ali.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi agenda silaturahmi. PPP Blora juga meminta doa dan restu kepada KH Muharor Ali yang dipandang sebagai salah satu sesepuh dan tokoh pesantren di Blora.
“Ini saya sampaikan juga, hari ini tadi sebelum Musancab dimulai, kebetulan juga tempatnya di Graha Nusantara. Beberapa pengurus PH DPC sowan Pak Yai Muharor, salah satunya sesepuh kami juga,” ujar Achlif.
Menurut Achlif, komunikasi dengan tokoh agama dan pesantren menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan PPP dengan masyarakat. Namun, strategi partainya tidak akan berhenti pada kelompok NU.
PPP Blora juga akan mengintensifkan safari politik kepada tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang. Tokoh nasionalis dan kelompok masyarakat lainnya akan menjadi bagian dari jejaring komunikasi yang dibangun partai.
“Kita akan intensifkan safari kita ke tokoh-tokoh masyarakat. Baik tokoh NU maupun tokoh-tokoh nasionalis yang lain. Harapannya seluruh unsur akan kita gandeng,” katanya.
Di sisi lain, PPP Blora mulai memetakan wilayah yang dinilai memiliki potensi untuk mendongkrak perolehan suara. Dapil 1 dan Dapil 4 menjadi perhatian khusus karena pada Pemilu 2024 PPP belum berhasil mendapatkan kursi dari dua dapil tersebut.
PPP Blora menyebut dua kursi yang hilang dari dapil tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan menuju Pemilu 2029.
Partai itu ingin mengubah hasil Pemilu 2024 dengan merebut kembali kursi yang sebelumnya tidak berhasil dipertahankan.
“2024 kursi kita di Dapil 1 dan Dapil 4 dipinjam oleh teman-teman dari partai lain. Insyaallah di 2029 nanti kursi itu akan kita minta kembali, yang awalnya dipinjam akan dikembalikan,” kata Achlif.
Untuk merealisasikan target lima kursi, PPP Blora juga melakukan pembenahan struktur organisasi. Musancab Serentak menjadi bagian dari konsolidasi untuk memastikan kepengurusan partai di tingkat kecamatan semakin solid.
Konsolidasi tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan pembentukan dan penguatan kepengurusan Musyawarah Ranting (Musran) di tingkat desa. Struktur hingga tingkat bawah dianggap penting untuk memperkuat komunikasi partai dengan masyarakat sekaligus memetakan basis dukungan secara lebih detail.
Achlif menilai target lima kursi bukan angka yang muncul tanpa dasar. PPP Blora pernah meraih lima kursi DPRD selama dua periode sehingga capaian tersebut menjadi pijakan bagi partai untuk kembali memperbesar kekuatan politiknya pada Pemilu 2029.
Dengan tiga kursi yang diperoleh pada Pemilu 2024, PPP Blora membutuhkan tambahan dua kursi untuk mencapai target.
Karena itu, penguatan basis suara di setiap dapil, perekrutan dan penguatan struktur, serta komunikasi dengan berbagai tokoh masyarakat akan menjadi pekerjaan utama partai dalam beberapa tahun ke depan.
“Targetnya di 2029, kita pernah dua periode memperoleh lima kursi. Maka kita ingin mengembalikan kursi itu lagi, dari tiga kursi menjadi lima kursi,” tegas Achlif.











