BLORA,SUARABLORA.COM – Hama tikus sawah masih menjadi ancaman serius bagi produktivitas pertanian di Desa Karanganyar, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora Jawa Tengah.
Serangan hama tersebut tidak hanya berpotensi merusak tanaman, tetapi juga membuat petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pengendalian berulang kali.
Berbagai cara selama ini telah dilakukan petani untuk menekan populasi tikus. Mulai dari perburuan secara bersama-sama, pemasangan perangkap, penggunaan pestisida hingga metode lain yang dilakukan secara swadaya.
Namun, cara-cara tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu memutus siklus perkembangbiakan tikus di kawasan persawahan.
Melihat persoalan tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University 2026 memperkenalkan Strategi Pengendalian Tikus Terpadu atau SIJITU kepada petani Desa Karanganyar.

Program ini menggabungkan pengendalian langsung terhadap sarang tikus dengan pendekatan ekologis melalui pemanfaatan predator alami.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan kepada petani adalah pengemposan. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan asap hasil pembakaran bahan tertentu ke dalam lubang tikus yang teridentifikasi aktif.
Tujuannya untuk menjangkau ruang-ruang di dalam sarang sehingga pengendalian tidak hanya dilakukan di permukaan lahan.
Tim KKNT Inovasi IPB tidak berhenti pada penyampaian teori.
Para mahasiswa memberikan demonstrasi dan pendampingan langsung agar petani memahami tahapan pengendalian secara tepat.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya mendorong petani agar dapat menerapkan teknologi sederhana dengan sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka.
Kegiatan SIJITU dilaksanakan dalam tiga tahapan di sejumlah wilayah Desa Karanganyar. Sosialisasi pertama digelar pada 20 Juli 2026 di Balai Desa Karanganyar dan diikuti 19 petani dari Dukuh Kalitengah serta Dukuh Kemuning.
Kegiatan dilanjutkan di Dukuh Karanganyar pada 26 Juli dengan 13 peserta dan di Dukuh Pelabuhan pada 27 Juli dengan 15 petani.
Secara keseluruhan, sebanyak 47 petani mengikuti rangkaian edukasi tersebut. Materi yang diberikan mencakup pengenalan perilaku tikus, identifikasi lubang aktif, pengendalian melalui pengemposan serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sawah.
Menurut Koordinator Tim KKNT Inovasi IPB, I Gede Yonala Bragaswara Dewanata, pengendalian tikus harus dilakukan secara terpadu dan tidak hanya mengandalkan satu metode.
Pendekatan tersebut penting karena tikus memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dan dapat kembali menyerang tanaman apabila pengendalian dilakukan secara sporadis.
“Konsep SIJITU kami dorong sebagai strategi pengendalian yang bisa dipahami dan diterapkan petani. Kami tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mengajak petani melihat langsung bagaimana metode pengendalian dilakukan di lapangan,” ujar I Gede Yonala Bragaswara Dewanata.
Selain pengemposan, mahasiswa IPB juga mengenalkan RUBUHA atau Rumah Burung Hantu. Fasilitas tersebut disiapkan sebagai bagian dari strategi biologis untuk mendukung keberadaan burung hantu jenis Tyto alba yang merupakan predator alami tikus sawah.
Kepala Desa Karanganyar, Imam Widodo, S.Pd., M.Pd., menyambut baik program tersebut. Ia mengatakan teknologi yang diperkenalkan mahasiswa memberikan alternatif bagi petani dalam menghadapi serangan tikus sekaligus membuka peluang penerapan pengendalian hama yang lebih efisien.
“Menurut saya, pengemposan ini jauh lebih efektif. Dibandingkan metode sebelumnya yang hanya mengandalkan pestisida kimia, pengemposan lebih ramah lingkungan dan hasilnya lebih tahan lama. Hama tikus berkurang signifikan, tanaman menjadi lebih sehat, dan biaya untuk membeli pestisida juga bisa ditekan,” kata Imam.
Imam menambahkan, keberadaan RUBUHA juga menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang.
Menurut dia, burung hantu dapat membantu mengendalikan populasi tikus secara alami sehingga keberadaannya perlu dijaga oleh masyarakat.
“Adanya RUBUHA atau Rumah Burung Hantu ini sangat membantu kami para petani. Burung hantu merupakan pemangsa alami tikus, sehingga bisa menekan hama tanpa bahan kimia. Kami berharap RUBUHA ini terus dirawat dan dijaga bersama,” ujarnya.
Tim KKNT Inovasi IPB berharap program SIJITU tidak berhenti setelah kegiatan mahasiswa selesai. Penguatan kapasitas petani, penerapan pengendalian terpadu serta pemeliharaan RUBUHA diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk menekan populasi tikus sekaligus menjaga produktivitas pertanian Desa Karanganyar
“Yang paling penting adalah keberlanjutan. Petani harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengendalian secara mandiri dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem sawah,” pungkas I Gede Yonala Bragaswara Dewanata.











