‎Krisis PG GMM Memanas, Petani Blokade Jalan dan Hadang Rombongan Bulog

‎BLORA ,SUARABLORA.COM– Krisis operasional Pabrik Gula GMM di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, kian memanas.

Puluhan petani tebu turun ke jalan dan melakukan aksi blokade akses menuju pabrik, Jumat (3/4), sebagai bentuk protes atas ketidakjelasan nasib hasil panen mereka yang terancam tidak terserap.

Aksi tersebut mencapai puncaknya saat rombongan dari Bulog yang hendak menuju lokasi pabrik dihadang oleh massa petani.

Blokade dilakukan di ruas jalan strategis menuju area pabrik, menyebabkan arus kendaraan tersendat dan situasi sempat memanas sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan mengamankan keadaan.

Para petani menilai, kondisi ini merupakan dampak dari berlarut-larutnya persoalan kerusakan pabrik yang tak kunjung diperbaiki. Padahal, pabrik gula tersebut selama ini menjadi tumpuan utama perekonomian warga, khususnya petani tebu di wilayah Blora dan sekitarnya.

Salah satu Perwakilan petani, Anwar, menegaskan bahwa aksi blokade merupakan bentuk kekecewaan atas sikap lamban pihak terkait dalam menangani persoalan yang sudah berlangsung lama.

‎“Kami sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian. Sekarang musim panen sudah di depan mata, tapi pabriknya tidak jalan. Kami harus menjual ke mana tebu kami? Ini yang membuat kami turun ke jalan,” tegas Anwar.

Ia menambahkan, petani tidak hanya menuntut solusi jangka pendek, tetapi juga kepastian konkret terkait masa depan pabrik. Menurutnya, tanpa perbaikan menyeluruh, masalah serupa akan terus berulang setiap musim panen.

‎Dalam dialog yang berlangsung di dalam area pabrik setelah situasi mereda, petani menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, seluruh hasil panen tebu dari Kabupaten Blora harus diserap 100 persen dengan harga yang layak. Kedua, perbaikan Pabrik Gula GMM harus direalisasikan paling lambat tahun 2026. Ketiga, petani mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Menanggapi aksi tersebut, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdani, yang berada dalam rombongan, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah darurat untuk memastikan hasil panen petani tetap terserap. Salah satunya dengan mendistribusikan tebu ke sejumlah pabrik gula di luar daerah.

“Untuk tebu yang akan dipanen dalam waktu dekat, kami pastikan akan difasilitasi melalui Bulog. Kami sudah berkoordinasi dengan pabrik-pabrik di Jawa Tengah dan Jawa Timur agar hasil panen petani tetap tertampung,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa perbaikan pabrik masih menunggu proses persetujuan dari Kementerian BUMN. Hal ini, menurutnya, menjadi salah satu kendala utama yang membuat penanganan tidak bisa dilakukan secara cepat.

‎“Kami sudah mengajukan perbaikan sesuai prosedur. Saat ini tinggal menunggu persetujuan dari kementerian terkait,” jelas Rizal.

‎Pernyataan tersebut justru memicu kekecewaan dari petani. Mereka menilai solusi distribusi ke luar daerah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar persoalan. Selain berpotensi menambah biaya logistik, skema tersebut juga dinilai tidak memberikan jaminan harga yang menguntungkan bagi petani.

‎“Kami tidak butuh solusi tambal sulam. Yang kami butuhkan adalah pabrik ini hidup kembali. Kalau terus seperti ini, kami yang terus dirugikan,” katanya.