BLORA,SUARABLORA.COM — Perum Bulog mengungkap alasan utama di balik belum optimalnya operasional Pabrik Gula (PG) GMM Todanan, Kabupaten Blora, yang hingga kini belum dapat melakukan penggilingan tebu secara penuh.
Salah satu faktor krusial yang menjadi penghambat adalah masih digunakannya sistem berbasis raw sugar dalam proses produksi pabrik tersebut.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdani, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat operasional pabrik tidak dapat berjalan maksimal jika tetap dipaksakan seperti sebelumnya.
Pasalnya, PG GMM selama ini tidak sepenuhnya mengandalkan bahan baku tebu murni, melainkan masih mencampurnya dengan raw sugar, sehingga tidak selaras dengan arah kebijakan pemerintah ke depan.
Menurutnya, pemerintah telah menetapkan kebijakan strategis untuk menghentikan impor gula rafinasi atau raw sugar mulai tahun 2026.
Kebijakan ini menuntut adanya penyesuaian total pada sistem produksi pabrik gula, termasuk PG GMM, agar beralih sepenuhnya pada pengolahan tebu sebagai bahan baku utama.
“Pabrik GMM ini masih berbasis raw sugar dengan campuran tebu. Kalau dipaksakan beroperasi seperti kemarin, tidak akan maksimal. Karena itu, akan kita ubah total menjadi pabrik yang fokus pada tebu saja,” ujar Ahmad Rizal Ramdani.
Ia menegaskan, transformasi tersebut bukan hanya menjadi kebutuhan teknis, tetapi juga langkah strategis untuk meningkatkan daya serap terhadap hasil panen petani. Dengan sistem pengolahan berbasis tebu murni, kapasitas serapan dinilai akan jauh lebih besar dibandingkan skema lama.
Di sisi lain, Bulog saat ini tengah mengajukan proses perbaikan fasilitas pabrik yang mengalami kerusakan, sekaligus menyiapkan skema revitalisasi menyeluruh. Namun, proses tersebut masih harus melalui persetujuan Kementerian BUMN, sesuai dengan prosedur yang berlaku.
“Kalau untuk mesin rusak, sesuai SOP BUMN, setiap perbaikan harus ada izin. Sekarang sedang kita ajukan agar mendapat restu untuk dilakukan perbaikan,” jelasnya.
Selain itu, kebutuhan anggaran untuk pembenahan pabrik juga masih dalam tahap penghitungan oleh tim teknis, termasuk melibatkan pihak Barata sebagai mitra teknis. Bulog menargetkan, setelah proses perizinan dan perbaikan selesai, PG GMM dapat beroperasi dengan sistem baru yang lebih optimal dan berkelanjutan.
Ahmad Rizal menambahkan, perubahan sistem ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis di tingkat pabrik, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi petani tebu, khususnya di Blora dan sekitarnya, melalui peningkatan serapan hasil panen.
Dengan rencana transformasi tersebut, Bulog menilai bahwa kendala operasional PG GMM saat ini justru menjadi momentum untuk melakukan pembenahan mendasar, guna mendukung target swasembada gula nasional sekaligus memperkuat ekosistem industri berbasis tebu di dalam negeri
<span;>











