Berita  

Baznas Blora Salurkan 86 Paket Ayam Petelur Tahap II, Total 166 Mustahik Kini Terlibat dalam Program Pemberdayaan Produktif

BLORA,SUARABLORA.COM – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Blora kembali mempertegas komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat kurang mampu melalui program pemberdayaan produktif. Pada Senin (17/11/2025), Baznas Blora menyalurkan 86 paket lengkap budidaya ayam petelur kepada mustahik dari berbagai kecamatan.

‎Penyaluran tahap kedua ini menjadi lanjutan dari pendistribusian tahap pertama yang sebelumnya diberikan kepada 80 mustahik di Pendopo Bupati Blora, sehingga total penerima manfaat kini mencapai 166 orang.

‎Ketua Baznas Blora, H. Sutaat, S.Pd., menyampaikan bahwa program budidaya ayam petelur merupakan implementasi dari lima fokus utama penyaluran zakat Baznas, yakni pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dan dakwah. Ia menegaskan bahwa sektor ekonomi produktif menjadi prioritas karena memberikan dampak jangka panjang terhadap peningkatan pendapatan mustahik.

‎“Program ini adalah bentuk ikhtiar konkret Baznas untuk memperkuat kesejahteraan keluarga mustahik melalui usaha peternakan yang produktif sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

‎Pada tahap kedua ini, setiap mustahik menerima paket lengkap yang siap digunakan untuk memulai usaha peternakan skala rumah tangga. Paket tersebut meliputi satu set kandang baterai, tempat makan dan minum ayam, serta 20 ekor ayam petelur siap produksi.

‎Baznas Blora menerapkan sistem distribusi bertahap, dengan mengirimkan kandang terlebih dahulu untuk dirakit sebelum ayam dikirim keesokan harinya. Mekanisme ini dinilai efektif dalam menekan risiko kematian ayam saat proses adaptasi.

‎Selain penyaluran bantuan fisik, Baznas Blora mewajibkan seluruh mustahik mengikuti pelatihan teknis budidaya ayam petelur. Pelatihan ini disampaikan oleh tim pendamping Baznas yang memberikan edukasi mengenai perawatan ayam, pemberian pakan yang tepat, pengendalian penyakit, serta manajemen kandang yang mendukung produktivitas. Langkah ini menjadi penentu keberhasilan program, memastikan mustahik memiliki pemahaman dasar sebelum memulai usaha.

‎Tim pendamping Baznas menuturkan bahwa proses monitoring akan dilakukan secara berkala untuk memastikan usaha para mustahik berjalan sesuai rencana. Berdasarkan hasil pemantauan awal, sebagian ayam yang disalurkan telah menunjukkan tanda-tanda produktif, sementara lainnya masih berada dalam masa penyesuaian lingkungan.

‎“Ayam petelur umumnya mulai berproduksi pada usia sekitar 20 minggu. Monitoring intensif diperlukan untuk membantu mustahik saat menghadapi tantangan teknis di lapangan,” jelas salah satu pendamping.

‎Pelaksanaan pendistribusian bantuan berlangsung dengan antusiasme yang tinggi. Para petugas bersama warga setempat bergotong-royong dalam proses pengangkutan kandang dan peralatan ternak ke kendaraan penerima. Suasana tersebut mencerminkan penerimaan positif masyarakat terhadap hadirnya program pemberdayaan yang diyakini mampu menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi keluarga mustahik.

‎Baznas Blora menegaskan bahwa program ayam petelur bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan investasi sosial jangka panjang yang dirancang untuk membangun kemandirian ekonomi. Dengan memberikan modal produktif yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan, mustahik diharapkan dapat memiliki sumber penghasilan yang stabil. Pendekatan ini sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan konsumtif.

‎Selain fokus pada sektor peternakan, Baznas Blora juga tengah menyiapkan program pemberdayaan ekonomi lainnya untuk menjangkau mustahik yang memiliki minat atau kompetensi berbeda. Ketua Baznas Blora menyampaikan bahwa perluasan program menjadi penting agar manfaat zakat menyentuh lebih banyak sektor ekonomi.

‎“Tidak semua mustahik cocok dengan usaha ternak ayam. Karena itu, kami juga menyiapkan bantuan gerobak untuk mendukung para pelaku usaha kecil dan pedagang kuliner,” tegas Sutaat.

‎‎Inisiatif ini memperlihatkan komitmen Baznas Blora dalam menciptakan ekosistem pemberdayaan yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan diversifikasi program, mustahik mendapatkan kesempatan untuk memilih sektor usaha yang paling relevan dengan kemampuan dan lingkungan mereka.

‎Di sisi lain, program pemberdayaan ini turut berkontribusi terhadap ketahanan pangan lokal. Dengan bertambahnya produksi telur dari skala rumah tangga, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dengan lebih baik, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi keluarga mustahik. Hal ini dinilai mampu menciptakan sirkulasi ekonomi yang lebih kuat di tingkat desa.

‎Sutaat menutup pernyataannya dengan menyampaikan harapan besar kepada seluruh mustahik penerima bantuan agar dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan maksimal.

‎“Kami berharap para penerima mampu mengembangkan usaha ini sehingga pendapatan keluarga meningkat. Harapannya, mereka kelak menjadi munfiq, orang yang mampu berinfak, sehingga terjadi perputaran kebaikan dari penerima menjadi pemberi,” jelasnya.

‎‎Dengan terselenggaranya pendistribusian tahap kedua ini, Baznas Blora menegaskan bahwa zakat memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen pembangunan ekonomi masyarakat. Melalui kombinasi pelatihan, pendampingan, dan pemberian modal produktif, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup mustahik sekaligus mendukung pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan.