‎Sirine “Nguk” Warisan Belanda Menggema Saat Ramadan, Tradisi Unik Blora yang Bertahan Puluhan Tahun

‎Blora, SUARABLORA.COM – Tradisi membunyikan sirine tua setiap bulan Ramadan kembali menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sirine yang terletak di sisi barat Rumah Dinas Bupati Blora ini rutin dibunyikan setiap sore sebagai penanda waktu berbuka puasa dan imsak, menggema menjelang adzan Maghrib.

‎Sirine yang dikenal warga dengan sebutan “nguk” atau “ngug” tersebut memiliki suara khas yang sering terdengar terlebih dahulu dibandingkan kumandang adzan dari Masjid Agung Baitunnur. Suara itu telah menjadi penanda tradisional yang dinantikan masyarakat setempat selama Ramadan.

‎Menurut penuturan warga, sirine kuno ini merupakan peninggalan era kolonial Belanda. Dahulu, alat tersebut digunakan untuk memberi tanda bahaya seperti serangan musuh atau jam malam. Sejak sekitar tahun 1970-an, Pemerintah Kabupaten Blora mengalihfungsikannya sebagai penanda waktu ibadah puasa.

‎Sirine tersebut berdiri di atas tiang besi setinggi puluhan meter. Meskipun berusia tua, alat ini masih mampu menghasilkan suara dalam radius lebih dari lima kilometer, menjangkau sejumlah kampung di luar pusat kota. Beberapa warga bahkan menyatakan bahwa dulu jangkauan suaranya bisa mencapai hingga 15 kilometer.

‎Pejabat setempat mengatakan sirine tidak hanya dibunyikan selama Ramadan, tetapi juga pada momen-momen penting nasional seperti peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus dan Tahun Baru. Hal ini menunjukkan fungsi sosialnya yang melampaui sekadar simbol keagamaan.

‎Untuk menjamin kelancaran tradisi ini, warga dan petugas secara rutin melakukan pemeliharaan sirine. Setiap awal Ramadan, alat ini dibersihkan dari sarang semut, tokek, dan kotoran lain yang dapat menghambat mekanismenya agar tetap berfungsi optimal. �

Tradisi sirine “nguk” juga merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal khas Blora yang berlatar belakang sejarah panjang. Keunikan ini pun menjadi salah satu ciri khas budaya Ramadan di wilayah yang sama dengan berbagai tradisi lain di Jawa Tengah dalam menyambut bulan suci.

‎Di banyak daerah lain di Jawa Tengah, masyarakat juga memiliki tradisi khas lainnya saat menyambut Ramadan. Misalnya, tradisi nyadran atau bersih makam leluhur yang digelar beberapa hari sebelum puasa, sebagai bentuk bakti sekaligus persiapan spiritual menghadapi bulan suci.

‎Masyarakat setempat menyatakan bahwa tradisi sirine “nguk” bukan sekadar bunyi alat, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sejarah Blora yang tak terpisahkan dari ritme kehidupan warga, terutama saat Ramadan setiap tahunnya.(Fitriana Aan Nur Aziza)