Warga menyebut kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung lama dan kerap menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Lubang jalan yang menganga dinilai sangat berbahaya, terutama pada malam hari ketika jarak pandang terbatas dan saat hujan yang menutup lubang dengan genangan air.
Ketua RW 14 Kelurahan Balun, Wakirin Budi Winararko, mengungkapkan bahwa warga sebenarnya tidak tinggal diam. Sejumlah upaya swadaya telah dilakukan untuk menutup lubang jalan menggunakan material seadanya. Namun, upaya tersebut tidak pernah bertahan lama.
“Sudah berkali-kali warga menutup lubang itu pakai grosok. Tapi kalau hujan deras, materialnya hanyut lagi. Jalan kembali berlubang dan makin berbahaya,” ujar Wakirin yang akrab disapa Mbah Garin, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, penanaman pohon pisang merupakan bentuk keprihatinan sekaligus peringatan keras agar kerusakan jalan tidak lagi diabaikan. Aksi tersebut juga dimaksudkan sebagai penanda bahaya bagi pengendara agar lebih waspada.
“Ini bukan sekadar protes, tapi tanda bahaya. Kami khawatir kalau dibiarkan terus, akan ada korban jiwa. Jangan sampai menunggu kejadian fatal baru diperbaiki,” tegasnya.
Warga menilai, sebagai jalan nasional, seharusnya perawatan dan perbaikan dilakukan secara cepat dan berkala oleh instansi terkait. Terlebih, ruas By Pass Pramuka merupakan jalur vital penghubung antarwilayah yang setiap hari dilintasi kendaraan roda dua, roda empat, hingga truk bermuatan besar.
Aksi penanaman pohon pisang ini sekaligus menjadi bentuk kritik sosial atas minimnya respons terhadap keluhan masyarakat. Warga berharap, simbol protes tersebut mampu menggugah perhatian pemerintah pusat maupun daerah agar segera turun tangan melakukan perbaikan permanen.
Jika tidak segera ditangani, warga khawatir kondisi jalan yang rusak akan terus menimbulkan kecelakaan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan. Mereka menegaskan bahwa keselamatan publik seharusnya menjadi prioritas utama, bukan menunggu hingga jatuh korban lebih banyak.











