JAKARTA ,SUARABLORA.COM— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal dibandingkan pola klimatologis normal di Indonesia. Pergeseran ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026 yang kini telah memasuki fase netral dan berpotensi berkembang menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa awal musim kemarau tidak terjadi serentak di seluruh wilayah Indonesia, melainkan bergerak bertahap dari wilayah timur ke barat.
“Masuknya musim kemarau berbeda-beda di Indonesia, dimulai dari arah timur atau wilayah Nusa Tenggara,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Berdasarkan analisis BMKG terhadap 699 Zona Musim (ZOM), sebanyak 114 ZOM atau sekitar 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Wilayah tersebut mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Bali, mayoritas Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian kecil Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Memasuki Mei 2026, cakupan wilayah kemarau diprediksi semakin meluas. Sekitar 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah akan mengalami kondisi kering, meliputi sebagian Sumatera, Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian NTB, Kalimantan bagian selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sementara itu, pada Juni 2026, sebanyak 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah lainnya akan menyusul memasuki musim kemarau.
Wilayah tersebut antara lain sebagian besar Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, serta sebagian wilayah Papua.
BMKG menegaskan bahwa kondisi kemarau tahun ini perlu diwaspadai karena berpotensi berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah, seiring indikasi penguatan El Nino. Kondisi ini dapat berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di wilayah yang diprediksi lebih awal mengalami musim kering, guna meminimalkan dampak yang ditimbulkan.











