Blora,SAUARABLORA.COM — Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora mulai mengintensifkan persiapan menjelang aksi damai bertajuk “#NagihJanjiBulog” yang dijadwalkan pada Kamis, 2 April 2026, di Alun-alun Blora.
Selain konsolidasi massa, panitia juga membuka penggalangan donasi berupa logistik untuk mendukung jalannya aksi.
Koordinator aksi, Wahyuningsih, menyebutkan pengumpulan bantuan telah dimulai sejak 29 Maret 2026 dan difokuskan pada kebutuhan konsumsi peserta aksi. Hingga awal pekan ini, bantuan yang terkumpul didominasi air minum kemasan dan makanan ringan.
“Per hari ini sudah terkumpul sekitar 200 dus air mineral dan sejumlah biskuit. Donasi yang kami terima hanya berupa minuman dan makanan kering, tidak dalam bentuk uang,” ujar Wahyuningsih, Senin (30/3/2026).
Ia menambahkan, partisipasi masyarakat cukup tinggi dan tidak hanya datang dari petani tebu di Blora, tetapi juga dari daerah lain. Dukungan lintas wilayah dinilai menjadi sinyal kuat solidaritas petani terhadap persoalan yang dihadapi bersama.
“Sudah ada bantuan dari luar daerah seperti Ngawi dan Sragen. Ini menunjukkan persoalan ini dirasakan luas oleh petani tebu,” katanya.
Di sisi lain, APTRI terus mematangkan rencana aksi melalui konsolidasi internal.
Data sementara menunjukkan sekitar 1.500 petani telah menyatakan siap bergabung, terutama dari wilayah Kunduran dan Todanan. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring pendataan di wilayah lain yang masih berlangsung.
Sebelumnya, perwakilan APTRI Blora telah melakukan audiensi dengan Bupati Blora, Arief Rohman, pada 27 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, petani menyampaikan tuntutan utama terkait kejelasan operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) milik Bulog yang berada di Kecamatan Todanan.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan pihaknya menuntut realisasi janji manajemen Bulog pusat untuk mengoperasikan kembali pabrik pada musim giling 2026. Janji tersebut, menurutnya, mencakup perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas produksi dan pembenahan manajemen.
“Kami hanya menagih komitmen yang pernah disampaikan, termasuk penggantian boiler yang rusak dan perbaikan tata kelola internal,” kata Sunoto.
Ia juga menyampaikan opsi alternatif jika Bulog dinilai tidak mampu menjalankan operasional pabrik secara optimal. Salah satu opsi yang diusulkan adalah penyerahan pengelolaan kepada pihak swasta demi menjaga keberlangsungan usaha petani.
“Kalau memang tidak sanggup, lebih baik diserahkan ke pihak lain yang mampu. Ini menyangkut nasib ribuan petani tebu,” ujarnya.
Aksi damai yang direncanakan tersebut diperkirakan akan diikuti hingga 5.000 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Selain itu, sekitar 200 truk direncanakan ikut dalam iring-iringan dari kawasan PT GMM menuju Alun-alun Blora sebagai simbol gerakan petani.
Sunoto memastikan aksi akan berlangsung tertib dan damai dengan mengedepankan pendekatan persuasif. Ia menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi, bukan tekanan yang bersifat anarkis.
“Kami pastikan aksi berjalan santun, tertib, dan tetap dalam koridor hukum. Ini murni perjuangan petani untuk mendapatkan kejelasan,” tegasnya.
Lebih jauh, APTRI juga berharap pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan yang dihadapi petani tebu di daerah. Hal ini dinilai penting untuk mendukung target swasembada gula nasional yang dicanangkan pada 2027.
Menurut Sunoto, kekecewaan petani tidak lepas dari pengalaman pahit pada musim giling 2025. Saat itu, proses produksi di PG GMM dihentikan secara mendadak akibat kerusakan mesin, yang berdampak langsung pada kerugian petani.
“Penghentian sepihak waktu itu membuat petani merugi besar, estimasinya mencapai Rp75 miliar. Trauma itu yang sekarang mendorong kami bergerak,” pungkasnya.











