‎Pemkab Blora Gelar Ziarah Leluhur untuk Menyusuri Jejak Sejarah Daerah

‎BLORA,SUARABLORA.COM-Menjelang peringatan Hari Jadi ke-276 Kabupaten Blora yang jatuh pada 11 Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Blora kembali menyelenggarakan tradisi ziarah ke makam para leluhur dan bupati terdahulu. Kegiatan ini merupakan rangkaian resmi yang setiap tahun dilakukan untuk menegaskan kembali komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian sejarah dan nilai-nilai dasar pembentukan Kabupaten Blora.

‎Ziarah yang dilaksanakan pada Kamis (4/12/2025) ini dipimpin langsung oleh Bupati Blora, Arief Rohman, didampingi Sekretaris Daerah, para kepala OPD, camat, dan lurah. Partisipasi jajaran pemerintah tersebut mencerminkan penghargaan institusional terhadap warisan kepemimpinan yang telah mengukir perjalanan pemerintahan Blora selama lebih dari dua setengah abad.

‎Sebelum menuju lokasi pertama, rombongan mengikuti prosesi jamasan pusaka Kabupaten Blora di Pendopo Rumah Dinas Bupati. Upacara penyucian pusaka tersebut menjadi simbol kesiapan pemerintah dalam menyambut hari jadi serta menandai kontinuitas tradisi yang telah dijaga secara turun-temurun.

‎Bupati Arief Rohman menegaskan bahwa kegiatan ziarah bukan sekadar agenda seremonial, tetapi juga merupakan refleksi mendalam mengenai akar sejarah Blora.

‎ “Sejarah adalah akar pengabdian kita. Apa yang kita lakukan hari ini berdiri di atas fondasi para pendahulu,” ujar Bupati Arief saat memimpin rombongan.

‎Ia juga menekankan pentingnya mendoakan para leluhur dan bupati terdahulu yang telah mewariskan struktur pemerintahan dan nilai-nilai kepemimpinan.

‎ “Kami memohonkan doa agar para leluhur diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Jasa-jasa mereka menjadi warisan yang terus menguatkan arah pembangunan Blora,” tambahnya.

‎Lokasi pertama ziarah ialah Makam Gedong Ageng Sunan Pojok di kawasan selatan Alun-alun Blora. Rombongan melaksanakan pembacaan tahlil dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada Sunan Pojok, sosok ulama dan panglima perang Mataram pada masa Sultan Agung, sekaligus pendiri Masjid Agung Baitunnur yang menjadi landmark keagamaan kota.

‎Perjalanan dilanjutkan ke Makam Keluarga Tirtonatan di Desa Ngadipurwo, tempat bersemayamnya sejumlah bupati dari masa kolonial. Kompleks pemakaman ini menjadi saksi sejarah panjang pemerintahan Blora sejak era Tumenggung Djajeng Tirtanata (1762–1782) hingga masa RM Said Abdoelkadir Djaelani (1912–1926).

‎Rombongan kemudian menuju TPU Giri Mulyo di Kecamatan Cepu, lokasi dimakamkannya Basuki Widodo, Bupati Blora periode 1999–2007. Kunjungan ini menjadi penegasan pemerintah bahwa kontribusi pemimpin di era modern juga memiliki nilai historis penting bagi perkembangan Blora saat ini.

‎Ziarah turut dilakukan ke makam leluhur Mbah Janjang Jiken, tokoh yang dikenal sebagai Jati Kusumo–Jati Sworo. Lokasi tersebut menjadi bagian dari tradisi spiritual masyarakat Blora dan memiliki hubungan erat dengan penyebaran nilai-nilai budaya di wilayah Jiken.

‎‎Menutup rangkaian kegiatan, Bupati Arief menjelaskan bahwa ziarah serupa sebelumnya juga dilakukan di beberapa kota lain.

“Beberapa hari lalu kami telah berziarah ke Semarang, Temanggung, Yogyakarta, Solo, hingga Tuban. Di Tuban kami mengunjungi makam Tumenggung Wilotikto, Bupati Blora pertama. Ini bentuk penghormatan menyeluruh terhadap jejak sejarah kabupaten kita,” tutupnya.