BLORA,SUARABLORA.COM – Program pembangunan listrik desa melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) APBN 2026 mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat di Dukuh Bendo Kerep, Desa Ngempol, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora.
Jaringan listrik yang dibangun melalui program tersebut resmi memasuki tahap commissioning test atau uji operasional oleh tim PLN wilayah kerja UP3 Madiun.
Proses uji operasional dilakukan untuk memastikan jaringan listrik berfungsi dengan baik sebelum digunakan secara penuh oleh masyarakat.
Dalam uji coba tersebut, aliran listrik berhasil dinyalakan sekitar pukul 15.00 WIB dan langsung disambut antusias warga setempat yang selama ini masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik.
Anggota DPRD Kabupaten Blora, Yuyus Waluyo, menyampaikan rasa syukurnya atas beroperasinya jaringan listrik tersebut. Menurutnya, ketersediaan listrik yang lebih stabil akan membawa dampak besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat desa.
“Alhamdulillah tadi listrik sudah menyala sekitar jam tiga sore. Besok mungkin ibu-ibu sudah mulai membeli peralatan elektronik. Biasanya yang paling dibutuhkan seperti kulkas, freezer, sampai mixer untuk kebutuhan rumah tangga,” ujar Yuyus.
Ia menilai, listrik kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat, tidak hanya untuk penerangan, tetapi juga untuk menunjang berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari penggunaan telepon genggam, kebutuhan usaha kecil, hingga hiburan keluarga di rumah.
Yuyus juga menegaskan bahwa keberhasilan menghadirkan jaringan listrik di wilayah tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, termasuk masyarakat, pemerintah desa, serta dukungan pemerintah pusat melalui program pembangunan desa.
“Ini bukan perjuangan satu atau dua orang saja. Listrik ini hadir karena perjuangan bersama seluruh warga dan berbagai pihak yang ikut berupaya agar wilayah ini mendapatkan akses listrik yang layak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Ngempol, Nurdianto, menjelaskan bahwa wilayah tersebut sebenarnya sudah mengenal listrik sejak awal tahun 2000-an. Namun, pada saat itu jaringan listrik masih bergantung pada suplai dari wilayah Jawa Timur dengan jalur distribusi melalui Getas menuju Tlogotuwung hingga Bendo Kerep.
Menurutnya, kondisi listrik pada masa itu sangat terbatas karena daya yang tersedia hanya cukup untuk penerangan sederhana dan belum mampu mendukung penggunaan peralatan elektronik secara optimal.
“Dulu saat magrib saja lampunya tidak bisa terang. Kalau dipakai untuk alat elektronik juga tidak maksimal. Alhamdulillah sekarang program listrik masuk desa bisa terlaksana dan masyarakat mulai merasakan manfaatnya,” jelas Nurdianto.
Ia menambahkan, Desa Ngempol terdiri dari delapan dukuh yang lokasinya saling berjauhan dan tersebar di beberapa titik. Saat ini jaringan listrik baru menjangkau satu dukuh di wilayah Bendo Kerep yang mencakup sekitar tiga rukun tetangga (RT).
Pemerintah desa berharap pembangunan jaringan listrik dapat terus diperluas sehingga seluruh wilayah desa bisa memperoleh akses energi yang sama.Meski demikian, pengembangan jaringan listrik di wilayah tersebut masih menghadapi sejumlah kendala teknis.
Salah satunya terkait perubahan jalur jalan dari Kepoh–Selogender menjadi Doplang–Bangkleyan–Mojoagung yang menyebabkan beberapa tiang listrik harus dipindahkan. Bahkan sebagian material jaringan masih berada di wilayah Getas.
Selain itu, proses perizinan untuk pemindahan jaringan listrik yang melintasi kawasan hutan juga menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah desa berharap dukungan dari instansi terkait agar proses penataan jaringan listrik dapat segera diselesaikan.
“Kami berharap ada bantuan dari dinas terkait, khususnya dari pihak Perhutani Randublatung, untuk mempermudah proses pemindahan jaringan. Karena kalau ada gangguan listrik, akses menuju lokasi jaringan cukup sulit dijangkau oleh petugas PLN,” ungkapnya.
Dengan mulai beroperasinya jaringan listrik desa tersebut, pemerintah desa optimistis kebutuhan energi masyarakat akan semakin terpenuhi. Kehadiran listrik yang stabil juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi warga serta mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan.(TH)











