Berita  

Sumur Rakyat Blora Dilirik Muba, Tata Kelola PT Mataram Connection Nusantara (MCN)Jadi Rujukan

BLORA,SUARABLORA.COM – Pengelolaan sumur minyak rakyat di Kabupaten Blora mulai dilirik daerah penghasil minyak lainnya.

Tata kelola sumur rakyat yang berada di bawah naungan PT Mataram Conection Nusantara (MCN) menjadi perhatian Badan Kelola Usaha Musi Banyuasin (BKU Muba), Sumatera Selatan.

BKU Muba melalui PT Keban Berkah Energi (KBE) melakukan studi banding ke sejumlah lokasi sumur minyak rakyat di Blora.

Kunjungan dilakukan untuk melihat secara langsung pola pengelolaan sumur, mulai dari kegiatan produksi hingga penerapan keselamatan kerja.

Dua lokasi menjadi tujuan kunjungan, yakni sumur minyak rakyat di Desa Soko, Kecamatan Jepon, dan Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo. Kedua wilayah tersebut berada dalam pengelolaan PT MCN.

Rombongan tidak hanya melihat aktivitas produksi minyak. Mereka juga mempelajari bagaimana pengelolaan sumur rakyat dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat di sekitar lokasi produksi.

Perwakilan PT KBE, Rezky Nugraha, mengatakan pihaknya sengaja memilih Blora karena ingin melihat langsung praktik pengelolaan sumur rakyat yang dinilai telah berjalan baik.

Terdapat sejumlah aspek yang bisa menjadi referensi dan rujukan untuk diterapkan di Musi Banyuasin.

“Kami datang dalam rangka studi banding untuk melihat implementasi sumur masyarakat yang sudah sangat baik di daerah Soko,” ujar Rezky.

Menurut Rezky, secara teknis pengelolaan sumur rakyat di Musi Banyuasin dan Blora memiliki sejumlah kesamaan.

Hal itu mencakup perawatan produksi, penggunaan peralatan operasional hingga penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja atau K3.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatian rombongan, yakni kemampuan pengelola di Soko menjaga aktivitas produksi minyak tetap berjalan tanpa mengganggu sektor pertanian dan perkebunan masyarakat.

“Praktiknya kurang lebih sama seperti di sini, mulai perawatan produksi, peralatan hingga K3-nya. Hanya saja kami tertarik melihat bagaimana lingkungan dan pertambangan minyak bisa saling mengisi dan bersinergi tanpa mengganggu produktivitas perkebunan maupun lahan pangan yang ada,” jelasnya.

Musi Banyuasin sendiri merupakan salah satu daerah penghasil minyak di Sumatera Selatan. Rezky menyebut terdapat sekitar 168 sumur yang saat ini aktif beroperasi di wilayah mereka.

“Kalau yang beroperasi di tempat kami saat ini ada sekitar 168 sumur,” katanya.

Karena itu, studi banding dilakukan untuk mencari referensi pengelolaan yang tidak hanya berorientasi pada produksi. Aspek keselamatan, keberlanjutan usaha, hubungan dengan masyarakat dan kondisi lingkungan juga menjadi perhatian.

Ia menambahkan PT MCN menjadi salah satu pihak yang menarik untuk dipelajari karena memiliki pengalaman dalam memaparkan tata kelola sumur rakyat kepada pemerintah pusat, termasuk Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).

Dari kunjungan tersebut, rombongan BKU Muba melihat bahwa potensi sumur rakyat tidak semata-mata diukur dari jumlah produksi minyak.

Pola pengelolaan dan kemampuan membangun hubungan dengan masyarakat menjadi bagian penting yang dinilai dapat dijadikan referensi maupun rujukan.

Perwakilan PT MCN, Rony, mengatakan kunjungan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumur minyak rakyat di Blora mulai mendapat perhatian di luar daerah. Menurutnya, Blora memiliki potensi untuk menjadi salah satu contoh tata kelola sumur rakyat secara nasional.

“Ini mereka datang memang untuk studi banding. Potensi yang cukup bagus, sumur minyak rakyat yang ada di Blora dijadikan percontohan skala nasional,” kata Rony.

Ia menyebutkan, selain Desa Soko, rombongan sebelumnya juga melihat langsung sumur minyak rakyat di Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo.

Kunjungan ke dua lokasi itu diharapkan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai tata kelola sumur rakyat di bawah naungan PT MCN.

“Selain sumur minyak Desa Soko, kita juga sebelumnya ke sumur minyak rakyat Desa Gandu karena itu juga wilayah yang dinaungi pihak MCN,” ujarnya.