BLORA,SUARABLORA.COM – Berawal dari insiden robohnya atap salah satu bangunan sekolah, SMP Negeri 2 Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kini mendapatkan bantuan pemerintah pusat melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan senilai Rp1.098.661.373yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
Bantuan tersebut digunakan untuk merehabilitasi sejumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan, meliputi enam ruang kelas, satu laboratorium IPA, dan satu ruang guru. Program revitalisasi dilaksanakan dengan skema swakelola melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan masa pekerjaan selama 120 hari kalender.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lingkungan sekolah, pekerjaan revitalisasi dimulai pada 19 Juni 2026 dengan sumber dana berasal dari APBN melalui Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kepala SMPN 2 Banjarejo, Sri Maya Harum Kristiyaningsih, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut bermula dari kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan pada bagian atap hingga akhirnya mendapat perhatian pemerintah.
“Berawal dari insiden kecil di sekolah kami yaitu gedung atapnya roboh, akhirnya menjadi perhatian pemerintah. Kemudian kami mengajukan usulan dan dalam kurun waktu sekitar satu minggu langsung ditindaklanjuti oleh kementerian. Kami bahkan diundang ke Jakarta untuk penandatanganan PKS,” ujar Sri Maya,Rabu 29/7/2026.
Menurutnya, respons cepat pemerintah pusat menjadi angin segar bagi sekolah yang selama ini membutuhkan perbaikan sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
Awalnya, pihak sekolah hanya mengusulkan rehabilitasi terhadap tiga ruang kelas yang kondisinya dinilai paling membutuhkan penanganan.
Namun setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut, usulan diperluas mencakup laboratorium IPA dan ruang guru yang juga mengalami persoalan serupa, terutama pada bagian konstruksi atap.
“Awalnya untuk tiga ruang kelas, kemudian ruang laboratorium IPA dan ruang guru juga kami usulkan. Yang menjadi fokus utama memang rehabilitasi atap bangunan agar lebih aman dan layak digunakan,” jelasnya.
Dari hasil verifikasi dan persetujuan pemerintah pusat, jumlah ruang yang mendapatkan rehabilitasi bertambah menjadi delapan ruangan yang terdiri dari enam ruang kelas, satu laboratorium IPA, dan satu ruang guru.
Saat ini proses pengerjaan revitalisasi terus berjalan. Sri Maya menyebut progres pekerjaan telah mencapai sekitar 15 persen. Dengan target waktu pelaksanaan selama 120 hari kalender, pihak sekolah optimistis pekerjaan dapat selesai sesuai jadwal.
“Untuk progres pekerjaan saat ini sudah sekitar 15 persen. Masa pelaksanaan 120 hari kalender dengan skema swakelola. Harapan kami sekitar bulan Oktober pekerjaan sudah selesai sehingga seluruh fasilitas bisa kembali dimanfaatkan secara maksimal,” katanya.
Program revitalisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan belajar di SMPN 2 Banjarejo. Selain memperbaiki kondisi fisik bangunan yang mengalami kerusakan, rehabilitasi juga menjadi langkah penting dalam menjamin keselamatan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan saat menjalankan aktivitas sehari-hari di sekolah.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan sektor pendidikan, bantuan revitalisasi yang diterima SMPN 2 Banjarejo menjadi contoh bagaimana laporan kerusakan infrastruktur pendidikan dapat memperoleh respons cepat dari pemerintah ketika disertai usulan dan data yang jelas.
Dengan dukungan anggaran lebih dari Rp1 miliar, sekolah berharap wajah SMPN 2 Banjarejo akan semakin representatif sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda di Kecamatan Banjarejo. Setelah revitalisasi rampung, fasilitas yang lebih aman dan nyaman diharapkan mampu menunjang peningkatan kualitas proses pembelajaran serta prestasi siswa di masa mendatang.
“Yang paling penting adalah keselamatan dan kenyamanan siswa serta guru. Semoga setelah revitalisasi selesai, kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung lebih baik dan fasilitas sekolah menjadi semakin layak,” pungkas Sri Maya Harum Kristiyaningsih.











